‘jerawat’

Standar

“Bunda, kok sekarang jarang motret ? , Dulu…rasanya tuh bunda tiada hari tanpa motret deh, saat keluar rumah selalu bawa kamera kemana-mana. Dirumah pun, adaaaa aja yang bunda foto”. Salah seorang gadis kembarku tiba-tiba ‘nongol’ dan sudah duduk di gazebo saat aku asyik memandangi ikan2 dikolam.

Kuhampiri bidadariku yang beranjak remaja itu. Kuhela nafas, sambil tersenyum kujawab ‘seadanya’ , “Hmmm…tau nih Sayang, bunda masih belum semangat lagi untuk memotret. Ngga tau kenapa, kadang…bunda kok sebel pas udah pegang kamera”.

“Hmm, bunda ‘masih inget terus’ ya ?” seakan bidadariku ini begitu memahami perasaanku.

Hampir 8 bulan aku tak aktif memotret. Tidak travelling. Bahkan, kreativitas seolah terkubur seiring permasalahan rumah tangga yang aku alami. Entah kenapa, seakan ada rasa jijik ketika aku memegang kamera.

Teman-teman se-profesi dan se-hobby telah banyak yang menanyakan. Seolah diriku hilang dari peredaran dunia fotografi. Tapi tak sedikit sahabat yang ikut prihatin karena mengetahui permasalahan yang terjadi.

 

“Bun, inget tentang jerawat yang pernah kita bahas ngga?” lanjutnya.
Aku sedikit mengernyit mencoba mengingat.
“Bunda pernah bilang saat kami ‘ngeluh’ soal jerawat > Jerawatnya cuma 2-3 aja kan, Sayang? Trus jerawatnya juga kecil kok. Jerawatnya ngga sebesar hidungmu yang bangir, kan? Dede dan Mba juga jangan lupa bersyukur atas indahnya mata juga bibir mungil yang Allah anugerahkan pada wajah kalian”.
“Itu kata2 yang bunda ucapkan pada kami”, sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menjuntai di gazebo, bidadariku terus melanjutkan.
“Maukah bunda ngga mengingat ‘masalah’ (jerawat) itu terus ? Karena Allah juga menganugerahkan kami pada bunda, yang masih ingin melihat bunda seperti dulu, memotret seperti dulu, bahagia seperti dulu”.

Dhuaarr!!…Tiba-tiba bunyi menggelegar melengkapi mendung siang ini. Aku tak kaget mendengar dentum dilangit. Aku terpaku mendengar kepolosan dari bidadariku. Bagai bertinju, uppercut dilontarkan dari bawah langsung ke sasaran utama. Aku KO. Terhenyak mendengar kalimat sederhana yang meluncur. Sederhana, namun penuh kebenaran.

Subhanallah.

Aku sangat faham maksud cahaya mataku ini. Jerawat pada wajah mereka adalah seperti masalah-masalah dalam kehidupanku…kehidupan kita. Kenapa harus terfokus pada sedikit jerawat? Sementara melupakan anugerah lain yang Tuhan berikan ? Bahkan sebenarnya anugerah lain itu lebih besar, lebih banyak, dan lebih indah.

Aku malu pada gadis kecilku, aku malu pada kebenaran kata2nya. Hamba malu padaMU, Tuhan. Dan aku pun ber-istighfar, lirih.

Kurengkuh bahu gadis cantik disebelahku, kusentuh perlahan hidungnya yang mancung, kupeluk dirinya. Kucoba sembunyikan sesuatu yang menghangat diujung mata.
Kubisikkan lembut ditelinganya, “Maafkan bunda Sayang…mungkin telah mengecewakan kalian, dan terima kasih karena sudah mengingatkan bunda”.

Kami tinggalkan gazebo karena tentara cair mulai berderap menyerang bumi.

===========================

**Sebuah kebenaran terkadang bukan hanya kita dengar dari orang yang lebih tua atau lebih berpengalaman hidup, tak dipungkiri…’rasa cinta membuat kita setuju’. Namun sebaliknya, jika kita sudah terlanjur membenci seseorang (apakah orang tersebut tua ataupun muda), kebenaran apapun yang disampaikan….maka kita seolah tak mau peduli. 🙂
Malah kadang hati ekstrem menghujat > “ah dia mah cuman bisa ngomong doang” – “ah nulis doang lu pinter” – “ah jangan mau dikibulin deh loe sama rangkaian kata-katanya” 🙂
Padahal, sejatinya kebenaran tetaplah sebuah kebenaran, siapapun yang menyampaikannya, apapun rasa yang kita punya terhadap penyampai kebenaran itu.

***Dede dan Mba adalah panggilanku untuk kedua bidadari kembarku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s