KEKAYAAN

Standar

Sejatinya, harta merupakan sarana untuk mencapai kebaikan. Kekayaan bisa menjadi penunjang atau bisa juga menjadi fitnah

Mencari kekayaan bisa menjadi sebuah kewajiban, jika usaha manusia itu dilakukan untuk mendapatkan penghasilan memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta mencukupkannya dari meminta-minta.
Mencari kekayaan bisa menjadi sunnah, jika usaha manusia mendapatkan penghasilan itu untuk memberikan tambahan nafkahnya dan nafkah keluarganya atau dengan tujuan melapangkan orang-orang fakir, menyambung silaturahim, memberikan balasan (hadiah) kepada kaum kerabat.
Mencari kekayaan dibolehkan (mubah), jika untuk memberikan tambahan dari kebutuhan atau dengan tujuan berhias dan menikmati.
Mencari kekayaan menjadi makruh jika untuk mengumpulkan harta agar bisa berbangga-banggaan, bermegah-megahan, sombong, bersenang-senang hingga melewati batas walaupun dicari dengan cara yang halal, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang mencari dunia yang halal untuk bermegah-megahan, berbangga-banggaan dan riya maka ia akan bertemu dengan Allah swt sedangkan Allah murka kepadanya.”
Mencari kekayaan menjadi haram, apabila dicari dengan jalan yang haram seperti riba, suap, merampok, menipu, dan lainnya.

Orang yang mengambil harta kekayaan tanpa hak…sama halnya dengan orang makan yang tak akan kenyang, dan harta yang diambilnya itu akan menjadi saksi atas perbuatannya pada hari  perhitungan kelak

Andai saja manusia sudah memiliki dua lembah emas, dia masih ingin memiliki lembah emas lainnya. Itulah watak dasar kebanyakan manusia, terdorong mencintai harta dan dunia, seolah tak pernah cukup, seolah tak pernah ada habisnya.

Adakah kekayaan yang tiada habisnya ?  Mungkin qona’ah jawabnya, merasa cukup dengan apa yang ada.

Qona’ah, sebuah kata yang mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dipraktikkan.

Si fulan merasa kesal kehujanan karena hanya naik motor saat ke kantor atau bepergian, tengoklah orang yang hanya menggenjot sepeda. Yang mengeluh hanya memiliki sepeda, mari lihat orang yang menempuh perjalanannya dengan  hanya berjalan kaki. Yang berkeluh kesah kakinya bengkak, mari sempatkan berfikir mengenai insan-insan yang Allah takdirkan tak memiliki penopang tubuh itu.

Orangtua yang jengkel dengan kanakalan anak-anak mereka, cermatilah kehidupan pasangan keluarga yang tidak memiliki satu pun cahaya mata itu. Manusia yang merasa terus menerus dalam kegalauan yang tak jelas ujung pangkalnya, pernah kah mengetahui bahwa ada diantara saudara-saudara  kita nun jauh disana yang menanggung sakit berat bertahun-tahun ?

Karena hakikatnya, harta bukan hanya tumpukan lembaran-lembaran kertas nominal yang bergambar orang yang sudah meninggal (baca: pahlawan).

Dengan melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, niscaya sikap qona’ah dapat terpelihara.

ALLAH….Tuhan kami, semoga ENGKAU senantiasa memelihara kami dari keburukan-keburukan dunia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s