Jangan Menangis (lagi) Cinta

Standar

Tatkala gambar-gambar kegembiraan berpendaran

Aku mencoba menemukan cahaya

Jangan menangis lagi, Cinta….

Aku tak kuasa melihat bulir-bulir bening itu jatuh disudut-sudut matamu

Akan kukuas warna-warna indah pada kanvas hati

Akan kudendangkan lagu merdu pada lubuk jiwa

Meski engkau telah pergi

Meski engkau tak lagi disini

Cinta akan menemukan jalannya sendiri

Sepasti mentari berganti tahta pada rembulan

Kini….

Kurelakan engkau tenggelam dalam senja

Palangkaraya
(writen in Fantasy Beach on July, 27th 2009)


ه`.. e d a n .. ه `

Standar

kesunyian yang pekat, ombak seakan meludahi

mungkin muak dengan sesenggukanku, mengeluarkan ingus tak habis2nya

menghabiskan berlembar2 tissue, phuiihh…

kebenaran dan kesalahan yang kerap dipertanyakan

tidak…tidaaakkk!!!…, aku muak dengan bunyi ponsel yang nyaris setiap 5 menit berdering

pesan pendek di ponsel semakin banyak, aku tak ingin membaca semuanya

perlu apa menanyakan keberadaanku

untuk apa aku ada…

selalu seperti ini…

ada bingung, ada marah, ada teriakan, ada air mata….

kemana cinta??….kemana ia??…adakah ia cinta??

cinta yang ajaib

menyatu raga, berpagut….

karena cinta

teriakan dan ketidakpercayaan pun…karena cinta ♥ ♥ ♥…katanya…

sungguh benar ajaib…

ombaaaaaakkkk….bawa aku…

gulung aku dalam buihmu

edan!…itu katamu tentang aku

sejenak lega meneriakkan segala pada alam

kemudian diam yang panjang

demi ombak yang bergulung, aku belum mau pulaaannng!!

Air Terjun Haratai

Standar

Bismillahirrahmanirrahim

Mengawali tulisan ini (mencoba menulis kembali, tepatnya) dengan menyebutkan asma Allah, seperti layaknya aku memulai segala sesuatu…pun ketika melakukan ‘pendakian’ ke puncak air terjun Haratai, Loksado – Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kalimantan Selatan)…yang mungkin sebenarnya tidak terlalu jauh untuk ukuran seorang (yang benar-benar) pendaki. Namun karena faktor usia yang mungkin tidak juga bisa dibilang muda lagi, serta kondisi medan pendakian yang licin karena baru saja diguyur hujan, ditambah lagi tak ada perbekalan/persiapan yang memadai untuk mendaki …tak bersepatu yang ‘pas’ untuk mendaki….tak berbekal minum apalagi makanan, sedikit obat-obatan…misalnya, bahkan senter…
Dadakan, lebih pas disebut demikian.

Perjalananku….suami dan ditemani seorang sahabat….dari Banjarmasin dimulai saat matahari hampir tepat diatas kepala, dengan masa tempuh kurang lebih 4 jam menuju Loksado, alhasil…mau tak mau…matahari pun sudah bersiap menuju peraduan saat kami tiba di penginapan.
Masih tak ada niatan menuju air terjun Haratai, namun begitu salah satu staff penginapan menyodorkan sebuah brosur tentang wisata setempat, seketika takjub melihat keindahan gambar yang terpampang di brosur tersebut. Seketika itu pula naluri fotografi hinggap. Dengan berbekal ‘persenjataan’ fotografi yang dirasa lumayan…tak mengindahkan lagi tentang cuaca dan keadaan yang akan segera berganti malam.

Seorang ‘joki’ bersedia untuk menemani kami menuju Haratai. Ber-ojek sampai ujung ‘aspal’, dengan kondisi jalan yang kata sahabat kami…”ini sudah lumayan dibandingkan dulu”…uppsss…kalau ini sudah “lumayan”….hmmm…aku membayangkan…bagaimana keadaan jalan ini sebelum “lumayan”.
‘Aspal’….hmm…entah apakah itu bisa disebut jalan ‘beraspal’…

‘Perjuangan’ sudah sangat terasa saat melewati jalan berbatu, berkelok, sempit, naik, turun, berliku, licin….ditengah hutan, melewati beberapa jembatan gantung yang juga tidak lebar….bahkan beberapa kayu ulinnya sebagian sudah terlepas…wowww…menambah memacu adrenalin, selain…bahwa kami memang berpacu dengan waktu…agar jalan pulang masih bisa terlihat nantinya. Perjuangan kembali berlanjut saat sampai pada ujung aspal. Dengan memanggul ransel berisi 5 lensa, monopod, dan pernik-pernik fotografi lainnya, Haratai masih belum juga terlihat meski suara air terjun tersebut lamat-lamat seakan berbisik mesra ditelinga, seakan merayu syahdu.

Dingin sudah sedari awal dirasa, tanpa alas kaki (yang memang sengaja aku lepas…khawatir andai tetap kupakai…akan semakin sering tergelincir), ada rasa sekejap menyelinap….akankah kami sampai di Haratai?, bukan rasa putus asa…bisa jadi karena lelah yang tanpa peluh, karena dahaga yang tak terpuaskan. Semenit rehat untuk mengatur nafas, seketika itu aku sadar….ini seperti sebuah perjalanan hidup…., karena hidup pun adalah sebuah perjuangan….yang berliku, berbatu, kadang menanjak berhasil, kadang menurun tanpa hasil, perih tertusuk duri-duri ujian, menangis karena luka yang sangat dalam, lelah dengan banjir peluh, terjatuh….namun harus mampu untuk bangkit kembali…untuk sebuah tujuan akhir….selamat menyeberang di Shirattal Mustaqiem…menuju keabadian surga Allah.

Deru Haratai semakin manja, menggodaku tak berlama-lama untuk santai, kembali mendaki untuk melihat kecantikan si air terjun itu. Subhanallah walhamdulillah, terjawab sudah rasa penasaran kami untuk melihat pesona Haratai. Sungguh Maha Besar Allah yang memberikan kecantikan dan keindahan pada ciptaanNYA itu. Sungguh Maha Sempurna Engkau ya Rabb…., kami begitu kecil…namun semoga tak berfikiran kerdil. Dengan kamera ditangan….terbersit sebuah doa dalam hati….agar aku masih diberikan kesempatan untuk bisa mengabadikan keindahan-keindahan ciptaanNYA yang lain.

Sebentar lagi senja, kami tak mungkin bermalam tanpa perbekalan apapun. Haratai….suatu waktu….aku akan kembali menjumpaimu, Insyaallah….

Walhamdulillah…

••¨•• ayie ¨••¨••

Loksado, Kandangan (Kalimantan Selatan)

Perjalanan Fotografi di akhir Desember 2009


Pasar Terapung Lok Baintan (Floating Market)

Standar

Lok Baintan adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Desa Lok Baintan sangat unik karena ‘masih’ memiliki Pasar Terapung, yang konon kabarnya bahwa Pasar Terapung ini adalah pasar terapung yang terakhir yang dimiliki Kal-Sel.

Menuju pasar terapung di desa ini membutuhkan waktu tempuh selama satu sampai satu setengah jam perjalanan sungai dari Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jalur darat bisa ditempuh menggunakan motor maupun mobil, dengan waktu tempuh sekitar 30 mnt (atau plng lama sekitar 1 jam), namun lebih berkesan melewati jalur sungai.

Pasar dimulai sekitar pukul 07.30 menempati ruas Sungai Martapura, ditandai dengan kedatangan para pedagang yang mengayuh jukung (sebutan setempat untuk perahu kecil) satu persatu berkumpul menuju satu titik. Yang unik adalah pasar ini bergerak alias larut menyesuaikan arah arus sungai.
Transaksi jual beli berlangsung di sungai. Agak susah membedakan mana pembeli dan mana penjual, sebab para pedagang terlihat sekaligus menjadi pembeli.